Makalah Akhlak Tasawuf - Nilai nilai islam
BAB I
PEDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pada
dasarnya konsep umum yang ada dalam masyarakat kita tentang istilah nilai
merupakan konsep ekonomi. Hubungan suatu komoditi atau jasa dengan barang yang
mau dibayarkan seseorang untuk memunculkan konsep nilai. Sedangkan mkna
spesifikasi nilai dalam ekonomi adalah segala sesuatu yang diminta dan
diinginkan oleh manusia yang dapat memenuhi kebutuhan, maka barang itu mengandung
nilai
Akan
tetapi makna nilai dalam pembahasan ini berbeda dengan konsep nilai dalam
bidang ekonomi bank karena pembahasan ini berobjek pada manusia dan
perilakunya, maka kita akan berbicara mengenai hal – hal yang dapat membantu
manusia agar lebih bernilai dari sudut pandang Islam.
Menurut
Zakiyah Darajat, mendefinisikan nilai adalah suatu perangkat keyakinan atau
perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang
khusus kepada pola pemikiran dan perasaan, keterikatan maupun perilaku.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian keikhlasan?
2. Apa pengertian kejujura?
3. Apa yang dimaksud keistiqomahan?
C.
TUJUAN MASALAH
1.
Mengetahui
pengertian keikhlasan
2.
Mengetahui
pengertian kejujuran
3.
Mengetahui
pengertian keistiqomahan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Keikhlasan
Ikhlas atau mengikhlaskan menurut bahasa berarti memurnikan atau
mengaslikan, dibersihkan / disterilkan dari segala sesuatu yang akan membuatnya
menjadi kotor. Sedangkan dalam istilah syarak Ikhlas di kenal dengan
memurnikan niat atau memotivasi keagamaan dalam jiwa dari segala unsur luar
yang akan mempengaruhinya. Dalam usaha beramal ibadah baik secara khusus
(mahdah) atau ibadah secara umum (gairu mahdah), sederhana dalam kalimatnya
yaitu Lillahita’alla (hanya karena ALLAH Semata).
Gambaran ikhlas antara lain
dinyatakan dalam bentuk pernyataan, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku,
dan matiku hanyalah untuk Allah Ta'la. Seseuatu
perbuatan itu baru diterima Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan dinilai sebagai
ibadah amal shaleh, jika perbuatan itu diizinkan oleh Allah dan dilakukan
dengan ikhlas.
Ikhlas adalah buah manis dan intisari dari keimanan
seseorang. Tidak heran jika Ibnu Qayyim al-Jauziyah memberi perumpamaan bahwa :
“Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong
dengan kerikil pasir, memberatkannya tapi tidak bermanfaat.”
Oleh karenanya suatu ketaatan
apapun bentuknya jika dilakukan dengan tidak ikhlas dan jujur terhadap Allah,
maka amalan itu tidak ada nilainya dan tidak berpahala, bahkan pelakunya akan menghadapi
ancaman Allah yang sangat besar. Jika keikhlasan itu sudah tertanam di dalam jiwa,
selayaknya kita harus menjaganya dan memperbaruinya.
Keikhlasan
dapat hilang oleh beberapa perkara, seperti:
1. Riya ialah melakukan `ibadah dengan
tujuan dilihat oleh manusia, sehingga orang yang riya’ itu mencari pengagungan,
pujian, harapan atau rasa takut terhadap orang yang dia berbuat riya’
karenanya.
2. Sum’ah adalah amalan yang dilakukan dalam
rangka agar didengar orang lain, misalnya memperdengarkan bacaan Al-Qur’an atau
yang lainnya.
3. Ujub adalah teman riya, yaitu perasaan
bangga terhadap diri sendiri atas kemampuan yang dimiliki secara berlebihan.
B.
Kejujuran
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) kejujuran berasal dari kata
dasar “jujur” dan mempunyai arti lurus hati, tidak berbohong,
tidak curang dan tulus. Dalam
Bahasa Arab, Tabrani Rusyan mengatakan bahwa jujur merupakan terjemahan dari
kata shidiq yang berarti benar, dapat dipercaya.
Itu
berarti bahwa jujur adalah kesesuaian dan kebenaran dari perkataan dan
perbuatan yang sesuai dengan kenyataan. Jujur adalah sebuah upaya
perbuatan untuk menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya baik
ucapan, perbuatan dan tindakan.
Kejujuran dapat dilihat dari berbagai bentuk, berikut
adalah uraian dari macam- macam bentuk kejujuran:
1. Jujur dalam niat
Niat merupakan suatu makna disertai maksud dan
keinginan. Suatu amal jika tidak disertai niat maka tidak sah dan tidak akan
diterima. Dengan niat, dapat menentukan atau menjadikan besar dan kecilnya
suatu amalan. Al fudhail berkata: Allah hanya menginginkan niat dan keinginanmu
darimu. Jika suatu amalan dilakukan karena Allah, dinamakan ikhlas dan berarti
tidak ada amalan untuk selain Allah. Amalan tersebut jika dilakukan untuk
selain Allah maka dinamakan nifak, riya dan lain sebagainya.
2. Jujur dalam perkataan
Bentuk kejujuran yang paling popular di masyarakat
adalah jujur dalam perkataan. Seorang yang senantiasa berkata jujur akan
mendapatkan kepercayaan dari orang lain dan tentunya dikasihi oleh Allah swt.
Namun, jika seorang itu berdusta orang lain tidak akan mempercayainya.
3. Jujur dalam
berjanji
Memiliki sifat
jujur salah satunya adalah menempati janjinya kepada siapapun, walaupun
terhadap anak kecil sekalipun. Dalam sebuah hadits dikatakan: “Barangsiapa
berkata kepada anak kecil, kemari saya beri korma ini, kemudian dia tidak
memberinya, maka dia telah melakukan kebohongan” (HR. Ahmad). Dan Allah pun memberikan pujian kepada orang yang berbuat jujur dalam menepati
janjinya. Hal itu terdapat dalam Q.s Maryam ayat 54, yang artinya: “dan
ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ismail dalam Al- Quran. Sesungguhnya ia
adalah orang yang jujur dalam janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi”.
4. Jujur dalam bermu’amalah
Jujur dalam bermu’amalah merupakan salah satu
penyempurna dari bentuk- bentuk kejujuran yang lain. Sikap yang mencerminkan
seorang muslim adalah tidak pernah menipu, memalsukan, dan berkhianat walau
kepada non muslim sekalipun. Dalam melakukan jual beli tidak melakukan kecurangan
dengan mengurangi atau menambah takaran dan timbangan.
5. Jujur dalam seluruh agama
Jujur dalam hal ini merupakan amalan yang paling mulia
dan memiliki derajat tertinggi. Bukti dari bentuk shidiq (benar antara
perkataan dan perbuatan) yaitu dengan benar dalam seluruh amalan hati
seperti takut, zuhud, ridha, tawakal dan lain- lain. Nabi saw bersabda:
“Hendaklah kalian bersikap benar/ jujur, karena
kebenaran itu akan mengantarkan pada kebaikan dan kebaikan akan menyampaikan ke
surga. Seseorang itu selalu berlaku benar dan berusaha mencarinya hingga ia
ditulis di sisi Allah sebagai orang yang suka berlaku benar”
Adapun manfaat keikhlasan
1. Memperluas
pergaulan
Orang yang berprilaku jujur tentu akan
banyak disenangi orang. Karena ia tidak membuat perasaan khawatir dan curiga
terhadap temannya. Maka dari itu orang yang berprilaku jujur akan dipermudah
dalam bersosialisasi.
2. Hidup
bermasyarakat dengan damai dan tentram
Hidup damai dan tentram akan tercipta
atas terbiasanya kita berprilaku jujur. Karna akan menimbulkan sikap saling
mempercayai, menghargai, saling peduli juga tidak saling merugikan.
3. Mendapat Ridho
Allah swt.
Perilaku jujur adalah perilaku yang
selalu membawa kebaikan. Maka perilaku jujur juga pasti akan mendatangkan ridho
Allah karena jujur merupakan suatu perbuatan yang disenangi Allah swt.
C.
Keistiqomahan
Secara epistemologi istiqomah berasal dari “istiqoma-yastaqimu” yang
berarti tegak lurus. Maka secara etimologi,
istiqomah berarti tegak lurus. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.
Sedangkan secara terminologi, istiqomah bisa diartikan
dengan beberapa pengertian, diantaranya pendapat para sahabat yakni, Abu Bakar
As-Shiddiq ra yang mengungkapkan bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak
boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun). Kemudian Umar bin Khattab
ra berkata, “Istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan
tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”. Sementara Utsman bin Affan
ra berkata, “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah Taala”. Dan
Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”.
Adapun beberapa cara
agar tetap
istiqomah di jalan allah:
1.
Meluruskan niat
Sebelum seseorang melaksanakan ibadah ia tentunya harus
berniat dalam hati. Dengan memiliki niat yang lurus dan hanya mengharapkan
ridha Allah SWT maka seseorang akan lebih mudah menjalankan ibadahnya dan tidak
mudah tergoda pada hal-hal yang bisa menghalangi ibadahnya. Niat juga merupakan
penentu suatu ibadah dan ia mendapatkan pahala atau ganjaran sesuai dengan niat
ibadah dalam hatinya.
2.
Memahami makna syahadat
Seorang muslim
tentunya mengetahui dan mengenal dua kalimat syahadat tapi tidak semua orang
mengetahui makna sebenarnya dari dua kalimat syahadat. Untuk bisa istiqomah
dalam beribadah maka seorang muslim harus bisa memaknai arti syahadat dan
mengetahui bahwa dengan mengucapkan syahadat ia memiliki kewajiban sebagai
seorang muslim termasuk dalam beribadah. Ibadah itu sendiri adalah suatu konsekuensi
dari ucapan syahadat seorang muslim dan sifatnya mengikat.
3.
Memperbanyak bacaan Alqur’an
Membaca Alqur’an setiap hari secara rutin adalah salah satu cara untuk
mendekatkan diri pada Allah SWT dan membantu seorang muslim untuk lebih
istiqomah beribadah di jalan Allah SWT. Alqur’an sendiri adalah kitab suci umat
islam yang bisa meneguhkan hati seorang muslim sehingga ia tidak mudah
tergoyahkan oleh hal-hal yang mampu merusak imannya
4.
Meningkatkan kualitas ibadah
sedikit demi sedikit
Mungkin bagi seorang muslim beribadah terus menerus sepanjang hari dan
terus beribadah dengan kualitas yang lebih baik tidak begitu mudah akan tetapi
hal ini tetap dapat dilakukan untuk menjaga istiqomah dalam beribadah. Agar senantiasa dapat beribadah secara istiqomah maka
hal tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas ibadah sedikit demi
sedikit. Sebagai seorang muslim yang baik tentunya kita akan senantiasa
meluangkan waktu untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah itu sendiri.
5.
Bergaul dengan orang-orang
shaleh
Hubungan manusia tidak terlepas dengan manusia lainnya dan perilaku seorang
manusia juga biasanya dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya. oleh sebab itu
jika ingin selalu istiqomah dalam beribadah maka banyaklah bergaul dengan orang
shaleh karena mereka bisa menjadi kawan saat beribadah dan senantiasa menjagamu
dalam kebaikan.
6.
Berdoa
dan berzikir kepada Allah SWT
Allah adalah maha pembolak balik hati seseorang dan atas
kuasaNya lah Allah menetapkan apakah Ia akan memberi seseorang hidayah ataukah
menutup hati seseorang. Oleh sebab itu kita dianjurkan untuk senantiasa
berzikir dan berdoa kepada Allah agar tetap istiqomah di jalan yang benar.
BAB III
PENUTUPAN
A.
KESIMPULAN
Nilai adalah suatu perangkat keyakinan atau perasaan yang
diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola
pemikiran dan perasaan, keterikatan maupun perilaku.
Ikhlas atau
mengikhlaskan menurut bahasa berarti memurnikan atau mengaslikan, dibersihkan /
disterilkan dari segala sesuatu yang akan membuatnya menjadi kotor.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad
Rabbi Muhammad Jauhari, Keistimewaan Akhlak Islami, terj. Dadang Sobar Ali,
(Pustaka Setia, Bandung, 2006),
M.Taqi
Mishbah, Monoteisme Sebagai Sistem Nilai dan Aqidah Islam, (Jakarta :Lentera,1984)
Zakiah
Darajat, Dasar-dasar Agama Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984)
Komentar
Posting Komentar